Di mata saya, Kyai Fuad adalah seorang local genius, yang tahu tugas hidupnya sebagai Khalifatullah,-pengemban amanat Tuhan. Kyai genius ini bukan saja seorang entrepreneur yang “diturunkan dari langit”, yang mampu menerobos pakem-pakem usang, tetapi ia lebih dari itu mampu membentukkan terwujudnya masyarakat petani sebagai entrepreneurial society. Entrepreneurial spirit Kyai Fuad tidak saja perlu ditularkan, disosialisasikan (sebagai pendidikan formal), tetapi bahkan harus bisa masuk mengisi silabus pendidikan formal di sekolah-sekolah dan di kampus-kampus kita – biar menara gading bisa pula menjadi menara air yang bermanfaat secara sosial. Buku Entrepreneur Organik yang menggambarkan entrepreneurial spirit Kyai Fuad sebagai Khalifatullah ini pada intinya melawan salahsatu musuh Islam, yakni kemiskinan. Islam khususnya dan agama-agama besar umumnya mendakwahkan tentang kemiskinan sebagai musuh kemanusiaan.
-Prof Dr Sri-Edi Swasono. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. (Dalam Kata Pengantar Buku Entrepreneur Organik. Faiz Manshur 2009)
-Prof Dr Sri-Edi Swasono. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. (Dalam Kata Pengantar Buku Entrepreneur Organik. Faiz Manshur 2009)
S
ikap toleran, moderat, dan penuh semangat menggelorakan kerja keras dan belajar adalah sebuah pesona indah, seindah mutiara Djambek yang telah memberikan kontribusi perubahan di Tanah Minang. Islam adalah agama amal, Kyai Fuad telah banyak mengamalkan nilai Islam tersebut. Itulah amal saleh yang sejati, yang meliputi semua perbuatan yang dicintai Allah, fisikal maupun spiritual, material, dan immaterial.
Islam yang diamalkan Kyai Fuad adalah Islam yang lurus karena menyandarkan paradigma kerja keras untuk meraih hasil. Ia menolak tangannya berada di bawah karena kemuliaan manusia saat tangannya berada di atas dengan cara menyantuni mereka kaum mustad’afin. Etos kerja masyarakat kita yang kurang giat diubah menjadi tradisi kerja keras. Keberaniannya mengkritik kemalasan orang-orang sekitarnya dengan menyebut Kabayan mungkin saja menyinggung sebagian kalangan di masyarakat Pasundan. Tetapi karena kepercayaan masyarakat terhadapnya teramat besar, kritik-kritik yang tajam tidak menjadikan masyarakat kecewa. Mereka sadar apa yang dikatakannya sebuah kebenaran sekalipun pahit adanya. Kritik pahit itu menjadi obat mujarab untuk mengusir penyakit malas yang menimpa masyarakat ini. Sekalipun pola pikir Kyai Fuad jauh dari teori-teori akademis, justru di situlah letak nilai lebihnya. Ia seorang kyai tradisional yang berpikir kritis, anti literalisme dan anti formalisme. Cara pandang kreatif ini mengantarkan kepribadian Kyai Fuad sebagai seorang alim moderat; luas bergaul dengan warga non-Muslim, dan lebih menarik dari itu ialah bahwa dirinya tidak alergi terhadap arus pemikiran dari mana pun, termasuk minat mengkaji sumber agama dan ajaran ideologi di luar Islam.
-Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, MA. Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Yogyakarta, Pendiri Maarif Institute, Jakarta. (Dalam Kata Pengantar Buku Entrepreneur Organik.
Faiz Manshur 2009)
Apa yang dilakukan KH Fuad Affandi patut diteladani dan dicontoh oleh pesantren yang terletak di daerah yang memungkinkan untuk kegiatan agribisnis. Semoga lebih banyak lagi pusat pendidikan bernuansa agama yang melakukan kegiatan sejenis. Namun saya berpendapat bahwa berdasarkan catatan historis-komparatif dengan beberapa negara lain, kemajuan pembangunan pertanian (termasuk agribisnis) hanya akan maju dan berkesinambungan bila diawali atau disertai dengan landreform. Tanpa landre
Komunitas Ciburial memang tidak persis sama dengan komunitas Tebuireng tempo dulu, Sumenep Barat, Probolinggo timur, dan Sengkang masa lalu, tetapi kiprah kiai Fuad Affandi tidaklah berbeda dari apa yang diniati dan digulati oleh kiai Hasyim Asy’ari, kiai Basith, kiai Wahid, dan kiai As’ad: melapas belenggu (ketertindasan) struktural dan kultural santri dan masyarakat sekitar di bidang ekonomi dan politik, termasuk ketergantungan (dependensi) pada kaum kapital. Dengan begitu, maka apa yang dikerjakan oleh kiai Fuad adalah reaktual
isasi atau penegasan kembali khittah pesantren di tengah-tengah kehidupan yang makin tidak ramah pada kaum lapis bawah, sebuah kehidupan yang ditandai oleh siapa yang kuat dalam arti ekonomi. Pada sisi yang lain, kiprah yang diperlihatkan oleh kiai Fuad itu sekaligus menegaskan bahwa pesantren t idaklah tertarik pada puritanisasi ajaran, masa lalu yang nun jauh di lingkungan ekologis yang berbeda (Arab), apalagi radikalisasi gerakan yang tidak sedikitpun menimbang kemanusiaan dan maslahat al-ammah. Oleh karena itu, terlepas dari pilihan perspektif, metode, dan teknik yang selalu terbuka diperdebatkan, dokumentasi dan publikasi tentang pergulatan kiai dan pesantren dalam persoalan-persoalan riil kaum lapis bawah seperti yang dikerjakan Faiz Manshur ini menjadi penting, paling tidak dari dua sudut. Pertama, ditengah semakin meluasnya orientasi dan keterhanyutan pesantren pada pragmatisme, modernitas, dan rayuan global yang semua itu mengantarkan pesantren menjadi dependen, tidak berkarakter. Kedua, ditengah permainan politik citra tentang pesantren yang semakin tersudut pada “kubang” radikalisme dan terorisme. Oleh sebab itu, apresiasi pesantren terhadap soal-soal kemanusiaan seperti yang ditunjukkan kiai Fuad dalam buku ini menjadi lukisan tanding yang diharapkan dapat menegaskan citra yang lain, citra yang sesungguhnya.
-Bisri Effendy, peneliti kebudayaan (LIPI) tinggal di Jakarta.

Membangun dan mobilisasi inisiatif dan partisipasi masyarakat secara aktif adalah kata kunci dalam keberlanjutan gerakan kekuatan lokal. Pemimpin yang kharismatik seperti KH Fuad Affandi di Bandung atau Muhammad Yunus di Bangladesh memang dibutuhkan dalam tahap awal gerakan tersebut, namun gerakan dapat dipertahankan dan dikembangkan dalam waktu yang cukup panjang jika memang kesadaran itu tumbuh dari bawah, dari dalam diri mereka sendiri. Apabila semua kondisi ini tercipta, tidak terlalu berlebihan kalau kita menjadi makin yakin bahwa another world is still possible di tengah dominasi dan kekuatan globalisasi. -Poppy Ismalina. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM
Pada bagian Antara Jawa dan Sunda terdapat interview menarik pada buku ini . Sebenarnya isu
"Jawaisme" jauh lebih kompleks dari paparan KH Fuad Afandi. Di luar Pulau
Jawa, sentimen anti-Jawa jauh lebih besar daripada yang saya ketahui
(dulu). Dalam Deklarasi Bangsa Acheh, mereka resmi menyebut "bangsa
Indonesia" adalah nama samaran "bangsa Jawa" dan mereka inilah yang
menggantikan Belanda sebagai penguasa Hindia Belanda. Saya kebetulan
lagi riset di Papua. Sentimen terhadap Jawa juga besar sekali.
Kedatangan transmigran Jawa dianggap sebagai pembentukan koloni-koloni
Jawa di seluruh Papua, terutama daerah perbatasan Papua-PNG. Pandangan
Fuad Afandi tersebut mengingatkan kepada Kartosoewirjo, seorang Jawa
yang memimpin Darul Islam dari Tanah Sunda, juga menarik untuk masuk
dalam analisis hubungan Jawa-Sunda. Kartosoewirjo bisa bahasa Sunda
halus. Di daerah Garut, dimana dia membangun basis perlawanan
bersenjata, hingga kini orang Jawa ini sangat dikagumi. Mungkin dia tak
kalah populer dari tokoh Soekarno, orang Jawa lainnya, yang pernah
tinggal di Bandung, serta bisa bahasa Sunda. Menariknya, mereka berdua
pernah sama-sama kost di Soerabaja, menjadi murid HOS Tjokroaminoto.
Kartosoewirjo, saya kira, tokoh yang populer di kalangan orang Sunda
--namun bukan di kalangan menak. Sebaliknya, Soekarno lebih populer di
kalangan menak. (Tetapi PNI sendiri )tak pernah menang telak di Tanah
Sunda. Saya kira faktor Islam ikut mengatasi perbedaan etnik ini. Menarik
membaca Pandangan Fuad Afandi ini. Saya bisa melihat bagaimana
seorang ulama Sunda memandang Jawa, Islam dan Indonesia. Ia bisa
dipandang sebagai hubungan dua etnik terbesar di Indonesia.
Keberhasilan KH Fuad Affandi dalam mengelola
agribisnis pesantren menurut hemat saya karena empat prinsip, yakni “ikhlas, jujur, serius dan fokus!” Dari
sosok dan tutur-kata KH Fuad, saya melihat keikhlasan dalam mengelola
pesantrennya, sedangkan dalam bisnisnya beliau sangat menjaga kejujuran. Semuanya
dikelola secara serius. KH Fuad tidak segan-segan bertanya dan selalu berusaha
memusatkan perhatian pada masalah yang menjadi tanggungjawabnya. Oleh karena
itu tepat kiranya kalau buku ini disebut "entrepreneur organic", seorang wirausahawan yang gigih
memperjuangkan kesejahteraan secara bersama.

Islam yang diamalkan Kyai Fuad adalah Islam yang lurus karena menyandarkan paradigma kerja keras untuk meraih hasil. Ia menolak tangannya berada di bawah karena kemuliaan manusia saat tangannya berada di atas dengan cara menyantuni mereka kaum mustad’afin. Etos kerja masyarakat kita yang kurang giat diubah menjadi tradisi kerja keras. Keberaniannya mengkritik kemalasan orang-orang sekitarnya dengan menyebut Kabayan mungkin saja menyinggung sebagian kalangan di masyarakat Pasundan. Tetapi karena kepercayaan masyarakat terhadapnya teramat besar, kritik-kritik yang tajam tidak menjadikan masyarakat kecewa. Mereka sadar apa yang dikatakannya sebuah kebenaran sekalipun pahit adanya. Kritik pahit itu menjadi obat mujarab untuk mengusir penyakit malas yang menimpa masyarakat ini. Sekalipun pola pikir Kyai Fuad jauh dari teori-teori akademis, justru di situlah letak nilai lebihnya. Ia seorang kyai tradisional yang berpikir kritis, anti literalisme dan anti formalisme. Cara pandang kreatif ini mengantarkan kepribadian Kyai Fuad sebagai seorang alim moderat; luas bergaul dengan warga non-Muslim, dan lebih menarik dari itu ialah bahwa dirinya tidak alergi terhadap arus pemikiran dari mana pun, termasuk minat mengkaji sumber agama dan ajaran ideologi di luar Islam.
-Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, MA. Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Yogyakarta, Pendiri Maarif Institute, Jakarta. (Dalam Kata Pengantar Buku Entrepreneur Organik.
Faiz Manshur 2009)
Hal yang istimewa
darinya ialah kemampuannya memadukan antara teori dan praktik. Sangat aplikatif dan setiap ilmu muaranya diarahkan ke praktik, kepada amal, sejalan dengan misi Al-Quran. Saudara Fuad mewarisi tradisi guru saya, Mohamad Natshir yang punya prinsip, “tak boleh ada tanah yang tidak menghasilkan.” Setiap jengkal tanah di mata Saudara Fuad dimanfaatkan sebagai penghasil rejeki kehidupan. Sektor pertanian yang diambil sebagai basis kegiatan sangat bagus karena dengan begitu Saudara Fuad berhasil mengombinasikan antara penghasilan yang bagus (penuh barokah) dari pertanian serta tradisi dagang yang bisa memperkuat penghasilan ekonomi. Dan ini berhasil dibuktikan!

Sebagai sahabat saya memahami proses gera kan Saudara Fuad sejalan dengan prinsip kami dalam membangun kegiatan di Pesantren Babussalam sini. Kami sering bersilaturrahmi, bukan hanya dalam persaudaraan tetapi juga tukar menukar ilmu-pengetahuan. Kalau Al-Ittifaq butuh pengetahuan dari kami, para santrinya dikirim ke sini. Begitu juga sebaliknya. Sisi kesamaan lain adalah kami sama-sama memulai usaha dari nol, diproses sungguh-sungguh, istiqomah, penuh kejujuran dan menjaga amanah.
KH Drs Muchtar Adam. -Pengasuh Pondok-Pesantren Babussalam, Dago-Pakar Bandung . Sahabat KH Fuad Affandi.(Dalam Komentar Buku Entrepreneur Organik. Faiz Manshur 2009)

form yang diuntungkan hanya elit desa atau elit kota . Gerakan KH Fuad Affandi kiranya merupakan tahap awal perbaikan kehidupan ekonomi masyarakat berbasis agribisnis. Tahap berikut, seyogianya dilakukan pembagian tanah bagi santri-petani agar mereka dapat mengolah tanah sendiri. Maka pelaksanaan landreform oleh pemerintah merupakan keniscayaan.
-Dr Asvi Warman Adam,- Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta (Dalam Komentar Buku Entrepreneur Organik. Faiz Manshur 2009)
Komunitas Ciburial memang tidak persis sama dengan komunitas Tebuireng tempo dulu, Sumenep Barat, Probolinggo timur, dan Sengkang masa lalu, tetapi kiprah kiai Fuad Affandi tidaklah berbeda dari apa yang diniati dan digulati oleh kiai Hasyim Asy’ari, kiai Basith, kiai Wahid, dan kiai As’ad: melapas belenggu (ketertindasan) struktural dan kultural santri dan masyarakat sekitar di bidang ekonomi dan politik, termasuk ketergantungan (dependensi) pada kaum kapital. Dengan begitu, maka apa yang dikerjakan oleh kiai Fuad adalah reaktual
-Bisri Effendy, peneliti kebudayaan (LIPI) tinggal di Jakarta.

Membangun dan mobilisasi inisiatif dan partisipasi masyarakat secara aktif adalah kata kunci dalam keberlanjutan gerakan kekuatan lokal. Pemimpin yang kharismatik seperti KH Fuad Affandi di Bandung atau Muhammad Yunus di Bangladesh memang dibutuhkan dalam tahap awal gerakan tersebut, namun gerakan dapat dipertahankan dan dikembangkan dalam waktu yang cukup panjang jika memang kesadaran itu tumbuh dari bawah, dari dalam diri mereka sendiri. Apabila semua kondisi ini tercipta, tidak terlalu berlebihan kalau kita menjadi makin yakin bahwa another world is still possible di tengah dominasi dan kekuatan globalisasi. -Poppy Ismalina. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

-Andreas Harsono, Wartawan, tinggal di Jakarta.
Drs Hasyim Afandi, -Mantan Bupati Magelang (1999-2003).
Sekarang Bupati Temanggung Jawa Tengah
(2008-2013).
Beberapa penghargaan yang pernah diterima Fuad Affandi:
1. Tanda Kehormatan Satya Lancana Wirakarya, sebagai penghargaan atas Darma Bakti kepada Bangsa dan Negara oleh Presiden RI Bachrudin Jusuf Habibie (1998).
2. Penghargaan Parama Bhoga Nugraha Hari Pangan Sedunia XIX dan Hari Wanita Pedesaan Sedunia IV Menteri Negara Pangan dan Hortikultura Prof. Dr F.A Moloek (1999).
3. Kalpataru untuk Kategori penyelamat Lingkungan dari Presiden Megawati Sukarno Putri oleh Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (2003).
4. Penghargaan Bakti Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah Ali Marwan Hanan (2003).
5. penghargaan Organisasi Sosial Berprestasi (Juara I) tingkat Propinsi Jawa Barat tahun dari Gubernur Jawa Barat Danni Setiawan ( 2005)
6. Penghargaan sebagai pelaku usaha yang menerapkan pedoman budidaya yang baik –good agricultural practices (GAP), dalam rangka bulan mutu nasional sektor pertanian, Menteri Pertanian Ir Anton Apriyantono MS (2006)
7. Penghargaan dari Bank Danamon (Danamon Award) Kategori penghargaan Nirlaba (2007)
8. Penghargaan “Polisi Masyarakat" Kepolisian Resort Kabupaten Bandung oleh Kapolres Imran Yunus (2009)
9. Dan lain-lain sebagainya.
1. Tanda Kehormatan Satya Lancana Wirakarya, sebagai penghargaan atas Darma Bakti kepada Bangsa dan Negara oleh Presiden RI Bachrudin Jusuf Habibie (1998).
2. Penghargaan Parama Bhoga Nugraha Hari Pangan Sedunia XIX dan Hari Wanita Pedesaan Sedunia IV Menteri Negara Pangan dan Hortikultura Prof. Dr F.A Moloek (1999).
3. Kalpataru untuk Kategori penyelamat Lingkungan dari Presiden Megawati Sukarno Putri oleh Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (2003).
4. Penghargaan Bakti Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah Ali Marwan Hanan (2003).
5. penghargaan Organisasi Sosial Berprestasi (Juara I) tingkat Propinsi Jawa Barat tahun dari Gubernur Jawa Barat Danni Setiawan ( 2005)
6. Penghargaan sebagai pelaku usaha yang menerapkan pedoman budidaya yang baik –good agricultural practices (GAP), dalam rangka bulan mutu nasional sektor pertanian, Menteri Pertanian Ir Anton Apriyantono MS (2006)
7. Penghargaan dari Bank Danamon (Danamon Award) Kategori penghargaan Nirlaba (2007)
8. Penghargaan “Polisi Masyarakat" Kepolisian Resort Kabupaten Bandung oleh Kapolres Imran Yunus (2009)
9. Dan lain-lain sebagainya.
7 komentar:
Yang gue tahu selama ini istilah intelektual organic, bukan entrepreneur organic. Sekarang muncul istilah baru. Bikin penasaran aja. semoga kalau beli buku ini ada pengetahuan yang diserap. Saya percaya pendapat Buya Maarif, tentu tiidak sembarangan memberikan pendapatnya untuk Pak Kyai Fuad.
Idem. Intelektual organic memiliki rumusan yg jelas dan sbenarnya sangat dibutuhkan masyarakat. Dan entrepreneur organic yang aku baca dari naskah diblog bawah ini nampaknya fenomena baru, pengusaha yang merakyat, berjuang bersama....penguasa heoris...:) Tenkyu, mencerahkan.
sebagai orang sunda tadinya aku bangga dengan tokoh ini karena ia seorang kyai sunda yang mahir agrobisnis. tetapi kritiknya kelewat kenceng euy.....agak panas jg telinga ini karena sunda dianggap lemah, tidak poenya kemandirian. Cuma bagaimana pun juga ini sebuah pendapat yang tidak asal-asalan. Kita hargai itu pendapat bapak kiai fuad. Merenungkan banget soal budaya ini. Orang sunda kenapa tidak mahir berpolitik karena salah didikan....beruntung aku merantau...just kidding....
Beli di toko apa boz.....di gramedia matraman tidak ada.....
jadi tertarik pingin membaca bukunya. agaknya dengan beberapa materi yg sudah kubaca ini memang perlu diperdalam.
kepada penulisnya,salam kenal. Sedikit bertanya, apakah buku ini sebuah tesis atau disertai dan apakah pokok persoalan yang dibahas? setelah saya lihat-lihat tulisan ini sepertinya kajian pertanian, tetapi kenapa yang menonjol adalah sosok KH Fuad Afandy?
terimakasih
Habib
Bogor
buku itu memang banyak mengulas sepak terjang KH Fuad Affandi. tetapi didalamnya byk memuat kisah koperasi, pendidikan, pengorganisasian, kiat pemasaran, dan dunia kepesantrenan. Model penulisan bukan akademis, tetapi bebas dan saya memang tidak mau terikat dengan disiplin akademis. Saran dan masukan saya tunggu.
salam
Posting Komentar